Repost dari postingan pribadi di Facebook 15 Januari 2016

Baru tadi malam, saya mengetahui kejadian serangan bom di jakarta. Itupun setelah melihat tagar ‪#‎KamiTidakTakut‬, meme pedagang sate dan kerumunan orang di dekat lokasi tembak menembak, yang juga menarik perhatian luas, bahkan media internasional. Hal yang saya kira sangat positif.

Tapi, semakin kesini foto2 dan pembicaraan yang beredar kok cenderung kearah yang semakin 'ngaco'. Dari FOTO SELFIE, sepatu branded & KW, sampe polisi fashionable. Hashtag yang tadinya 'wearenotafraid' seketika juga berubah menjadi ‪#‎kaminaksir‬. Kok rasanya ada yang SALAH dengan tema orang2 ini. Apa ini yang namanya alayers?

Alih2 aksi solidaritas, para alay ini menurut saya malah menunjukan sikap tidak simpatik, empatik, atau apapunlah itu namanya. Apa urusannya coba, antara #kaminaksir dan melawan teroris? Apa hashtag demikian akan membuat para teroris 'merasa gagal'? Atau, itu yang namanya bentuk dukungan bagi para korban?

INGAT, yang menjadi korban bukan hnya para pelaku, tapi juga warga sipil dan polisi. Hargai perasaan keluarga korban. Apa jadinya jika diantara mereka menyaksikan berita di televisi, dan yang mereka liat bukan wajah serius reporter tv, tapi justru senyum sumringah alayers lagi selfie! Hashtag 'wearenotafraid' itu sejatinya dan seharusnya merupakan bentuk perhatian kita, terutama yang tidak terkena dampak langsung. Dengan menyebar hashtag tsb kita seakan datang menemani, menepuk pundak sahabat kita dan berkata "ayoo bangun, kamu ga sendiri, liat kami semua datang membantu, ayo kita lawan bersama", bukan malah menunjukan kepada Dunia seberapa alay-nya (bangsa) kita. It's not funny!

Dan lagi, ‪#‎wearenotafraid‬ adalah senyum dan tawa seseorang yang kuat, tabah, tegar dan saling berpegangan tangan. Tawa ini bukan tawa candaan, guyonan, apalagi terbahak-bahak seakan-akan ini komedi tepung yang sering kalian (para alayers) tonton di TV! Stop making this attack as a joke, please!


Setiap tahun, ribuan pelamar rela bersaing mendapatkan beasiswa yang umumnya dengan kuota tidak lebih dari 500 per tahun ini. Alasan yang membuat mereka begitu populer pada dasarnya sama saja. Beasiswa-beasiswa ini memberikan pembiayaan secara penuh. Artinya, pemberi beasiswa menanggung semua biaya yang dikeluarkan oleh awardee selama studi seperti SPP, biaya hidup, asuransi, biaya pelatihan, hingga tiket pesawat menuju dan dari negara tujuan studi.

Sumber foto http://dentistry.unsoed.ac.id/node/58
Australia Awards
Australia awards adalah beasiswa internasional prestisius yang didanai oleh pemerintah Australia. Beasiswa yang dulunya bernama Australia Development Scholarship (ADS) ini pada tahun 2012 memberikan beasiswa kepada 4.900 mahasiswa S2 dan S3 dari 145 negara. Indonesia yang merupakan tetangga dekat Australia kebagian jatah 500 kuota, paling tidak hingga tahun 2013. Beasiswa ini memberikan peluang bagi mahasiswa Indonesia untuk merasakan pengalaman belajar di negara kangguru dengan program studi yang hampir tidak terbatas. Periode pembukaan pendaftaran biasanya pada bulan januari hingga april. So, siapkan dirimu dari sekarang. Informasi lebih lanjut bisa mengunjungi website resmi http://www.australiaawardsindonesia.org/
Fulbright
                Ada banyak beasiswa yang menyediakan peluang beasiswa di Amerka Serikat, dan yang paling ternama (menurut saya) adalah Fulbright. Penerima beasiswa Fulbright sendiri terbilang banyak yaitu sekitar 275 orang (tahun 2011) dari berbagai bidang keilmuan. Selain itu, program yang ditawarkan sendiri sangat variatif. Contohnya, program beasiswa Master, Program Doktor,Program Penelitian, serta  Program Fulbright yang didanai Dikti. Ada juga beberapa program khusus seperti FLTA (pertukaran guru bahasa Indonesia ke US), Hubert Humprey, pertukaran mahasiswa S1, dan masih banyak lagi. Saat ini, informasi beasiswa-beasiswa di Amerika Serikat berada dibawah American Indonesia Exchange Foundation (AMINEF). Sebab itu, Informasi mengenai beasiswa Fulbright ini dapat dibaca pada laman http://www.aminef.or.id/ atau dari google dengan memasukkan kata kunci Fulbright Indonesia

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
                LPDP merupakan salah satu pemberi beasiswa yang berasal dari dalam negeri. Beasiswa ini disantuni oleh gabungan 3 kementerian: kemenkeu, kemendikbud, dan kemenag. Saat ini, LPDP tengah menjadi primadona dikalangan pencari beasiswa. Terbukti, lebih dari 25 ribu pelamar mengirip aplikasinya setiap tahun. Tak heran, mengingat beasiswa ini menyediakan kurang lebih 3000 beasiswa setiap tahunnya. Jumlah yang terbilang banyak tentunya. Keunggulan lain dari beasiswa ini adalah tujuan jangka panjangnya yang ingin menciptakan sekelompok pemimpin masa depan yang akan memberikan segudang kontribusi sekembalinya mereka ke tanah air. Dapat dikatakan, beasiswa ini adalah yang paling nasionalis. Info lengkap dari beasiswa ini dapat dilihat di laman www.lpdp.kemenkeu.go.id 

Chevening
Beasiswa Chevening adalah beasiswa prestisius yang diberikan oleh pemerintah Britania. Beasiswa ini membolehkan penerimanya untuk belajar di Universitas mana saja di United Kingdom. Setiap tahunnya, beasiswa Chevening telah menganugerahkan 1500 kuota kepada mahasiswa international di seluruh penjuru dunia. Tahun 2015, Chevening bersedia memberikan beasiswa kepada sekitar 70  mahasiswa dari Indonesia.  Beasiswa ini biasanya menutuo pendaftarannya pada bulan November setiap tahunnya. Untuk info selengkapnya, bisa mengunjungi situs www.chevening.org

StuNed
       Negara Belanda juga tidak ketinggalan memberikan beasiswa bagi putra-putri terbaik Indonesia. Saat ini, informasi beasiswa-beasiswa di Belanda disediakan secara resmi melalui website nuffic neso Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah beasiswa StuNed. Setiap tahunnya, 200-250 mahasiswa dikirim ke Belanda dengan harapan memberikan kontribusi yang besar bagi bangsa Indonesia. Beasiswa yang diberikan terbilang variatif, karena selain menyediakan beasiswa master, StuNed juga memberikan beasiswa short course. Informasi penting lain mengenai StuNed dapat dibaca di laman resmi Nuffic Neso Indonesia http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/stuned








>
Disclaimer:
Tulisan ini sepenuhnya berdasarkan opini penulis dan oleh karenanya tidak mewakili atau merepresentasikan salah satu lembaga pemberi beasiswa.

Jika anda membaca tulisan saya ini, artinya kemungkinan besar kita sama. Bisa jadi anda juga memiliki kesamaan minat dengan saya yaitu berburu beasiswa. Seperti diketahui, ada begitu banyak para pencari beasiswa di luar sana yang sama seperti kita. Sebagian mungkin sedang atau telah berhasil mencapai cita-citanya. Namun, sebagian lain banyak pula yang gugur. Ada yang gagal di tahap wawancara. Ada juga yang belum lulus seleksi berkas. Bahkan mungkin banyak pula yang gagal karena memang tidak pernah mengirimkan aplikasinya. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman pribadi sehingga bisa memompa kembali semangat para pemburu beasiswa seperti anda. Satu pengalaman saya ini barangkali bisa menjadi tips bagi anda atau paling tidak menambah koleksi tips anda dalam mendapatkan beasiswa.
Sumber foto: www.kesekolah.com

Sudah barang tentu setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengejar impiannya. Secara pribadi, salah satu yang saya gunakan terutama ketika mendaftar beasiswa adalah dengan mengirimkan lamaran sebanyak-banyaknya pada waktu yang bersamaan. Cara ini juga saya gunakan dulu ketika mencari pekerjaan. Tidak jarang dalam sehari saya bisa memasukkan 5-6 lamaran. Begitu juga dengan beasiswa. Pengalaman saya, saya pernah mengirimkan lamaran untuk beasiswa LPDP, Fulbright, dan Australia Award dalam waktu yang berdekatan, dengan harapan salah satunya berhasil diterima.
Cara seperti ini sukses menghemat waktu kita menjadi lebih efisien. Karena rata-rata beasiswa hanya buka satu kali dalam setahun, itu artinya kita harus menunggu lagi hingga tahun depan jika gagal tahun ini. Itu pun kalau tahun depannya tidak gagal lagi. Dengan mengirim banyak aplikasi, jika aplikasi yang pertama gagal maka kita masih memiliki kesempatan pada aplikasi lainnya di tahun yang sama. Intinya, kita tidak pernah benar-benar fanatik untuk satu beasiswa.
Cara seperti ini memang memiliki sisi lemah. Diantaranya adalah fokus kita yang menjadi terpecah. Apalagi tiap-tiap beasiswa biasanya meminta setiap pelamar untuk menulis beberapa esai. Dengan semakin banyak beasiswa yang dilamar itu artinya jumlah esainnya pun akan berlipat. Belum lagi jika pelamar yang bekerja atau sudah mempunyai keluarga. Maka, pelamar dituntut untuk benar-benar bisa membagi waktu dan pikiran seefisien mungkin.
Namun, kelemahan itu bisa saja kita akali jika memiliki timeline perencanaan yang baik. Dengan kata lain, pelamar membuat daftar prioritas sesuai dengan deadline karena masing-masing beasiswa memiliki deadline yang berbeda. Sebagai contoh, anda bisa mendahulukan beasiswa Australia Award ketimbang Chevening mengingat deadline Chevening yang biasanya di akhir tahun. Untuk itu, sebaiknya setiap pelamar mengetahui dengan baik kapan deadline setiap beasiswa sehingga pelamar bisa membuat perencanaan dengan tepat.